
GEDANGAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) menggelar sosialisasi dan praktik budidaya maggot bagi peternak ikan lele di Balai Desa Gedangan pada Kamis (16/7). Kegiatan ini digagas lantaran budidaya maggot masih tergolong minim, bahkan belum banyak dilakukan di Kabupaten Pacitan, sementara Desa Gedangan sendiri memiliki potensi besar di sektor peternakan, perikanan, dan pertanian.
Program ini diharapkan dapat menjadi inovasi sekaligus percontohan budidaya maggot di desa tersebut. Kegiatan diisi dengan sosialisasi mengenai siklus hidup maggot, tata cara budidaya, hingga perbandingan segi ekonomis antara maggot dan pakan pelet biasa. Selain pemaparan materi, mahasiswa KKN juga mempraktikkan cara menetaskan telur maggot serta menunjukkan sampel maggot yang siap dikonsumsi ternak, dengan fokus khusus pada budi daya ikan lele yang menjadi program unggulan desa dan banyak diminati warga setempat.
Kegiatan ini bertujuan menanamkan pemahaman kepada masyarakat mengenai adanya pakan alternatif selain pelet yang dapat dibudidayakan maupun dijual. Dari segi ekonomis, satu kilogram maggot hidup dijual dengan harga sekitar Rp4.000, sementara pelet seberat 250 gram dibanderol sekitar Rp12.000. Budidaya maggot juga tergolong mudah karena pakannya berasal dari limbah rumah tangga seperti sisa buah, sayur, dan makanan yang sudah tidak layak konsumsi, serta dapat dipanen dalam bentuk hidup, basah, maupun kering.
Sosialisasi ini diikuti oleh 15 peternak lele dari Dusun Kalilongan dan Krajan. Dalam pelaksanaannya, sebagian peserta menunjukkan antusiasme dan meminta penjelasan lebih lanjut mengenai teknis budidaya maggot. Namun, terdapat pula peserta yang sempat meragukan program ini karena masih menyamakan maggot dengan larva lalat pada umumnya, sehingga mahasiswa KKN perlu memberikan penjelasan tambahan mengenai perbedaan antara lalat black soldier fly (BSF) dan lalat biasa.

Dalam praktiknya, mahasiswa KKN mendemonstrasikan proses penetasan telur maggot menggunakan wadah ceting yang diberi campuran pakan ayam dan katul sebagai media basah, dengan tambahan katul kering di sekitarnya agar larva tidak memanjat keluar media. Telur maggot diletakkan di atas tisu yang telah dibasahi agar tetap lembap, kemudian dibiarkan menetas dalam waktu tiga hingga empat hari. Adapun alat dan bahan yang digunakan meliputi box plastik atau sterofoam berukuran besar, pelet ayam halus, penutup box dari sterofoam, sarung tangan, ceting, tisu, alat semprot air, serta saringan maggot.
Salah satu peternak lele, Pak Heri, menunjukkan ketertarikan untuk menindaklanjuti program ini, mulai dari proses budidaya hingga penjualan maggot. Mahasiswa KKN berharap ketertarikan tersebut dapat berlanjut dan mendorong keberlangsungan usaha budidaya maggot di desa. Dari segi manfaat, maggot dinilai memiliki kandungan protein tinggi yang dapat mempercepat pertumbuhan ikan lele. Namun demikian, budidaya ini juga memiliki kekurangan dari sisi lingkungan, mengingat bahan pakan maggot yang berasal dari limbah rumah tangga berpotensi menimbulkan bau serta memengaruhi kualitas udara di sekitar lokasi budidaya.




