Mahasiswa KKN Bantu UMKM Desa Rebranding Usaha dan Digitalisasi Pembayaran lewat QRIS

Dokumentasi bersama pemilik UMKM Desa Gedangan pada Kamis (30/7) di Desa Gedangan.

GEDANGAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Sebelas Maret (KKN UNS) melaksanakan program pendampingan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Gedangan, meliputi rebranding usaha, pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), serta pendataan usaha melalui Google Maps dan laman resmi desa.

Program diawali dengan observasi terhadap aset branding yang dimiliki para pelaku usaha. Hasilnya, sebagian besar pemilik usaha sudah memiliki nama usaha dan sebagian telah memiliki logo, akan tetapi media promosi yang digunakan masih beragam dan belum merata. Beberapa pelaku usaha telah memanfaatkan media daring seperti WhatsApp, tetapi banyak yang belum memiliki banner sebagai media promosi utama. Menanggapi hal tersebut, mahasiswa KKN menawarkan program rebranding melalui pembuatan banner, kartu nama, dan logo usaha agar produk UMKM lebih dikenal masyarakat luas.

Selain rebranding, mahasiswa KKN juga melakukan observasi terhadap pola transaksi para pelaku usaha. Dari hasil pengamatan, cukup banyak usaha yang sering bertransaksi secara digital. Namun, sebagian pemilik usaha belum memiliki media pembayaran digital dan masih mengandalkan transfer bank. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa KKN menawarkan pembuatan QRIS guna mendukung digitalisasi ekonomi dan mempermudah masyarakat dalam melakukan pembayaran. Bantuan yang diberikan berupa pembuatan QRIS yang dicetak dalam bentuk standing akrilik maupun cetak biasa.

Adapun UMKM yang menjadi sasaran program ini di antaranya Berkah Abadi Tani x Balsabalap, Tahu Riski, Lisna Salon, RinSnack, Tahu Al Kautsar, Bimbel Rumah Rosi, Hana Chicken, Hamart, Reza Cell, serta Toko Bu Yuni. Rangkaian pendataan UMKM pada program ini berjalan mulai dari Senin (27/7) dan masih berlangsung hingga saat ini.

Mahasiswa KKN UNS melakukan pendataan UMKM dengan mendatangi lokasi pemilik usaha sebagai rangkaian rebranding usaha dan digitalisasi pembayaran lewat QRIS pada Senin (3/8) di Desa Gedangan.

Penurut penyelenggara program, tidak seluruh pelaku usaha bersedia mengikuti program digitalisasi pembayaran ini. Sebagian menolak karena usaha tersebut dijaga oleh orang tua dengan literasi digital yang masih minim, sehingga transaksi tetap dilakukan secara manual.

Di sisi lain, program pendataan UMKM turut dilakukan dengan menghimpun informasi berupa nama usaha, nama pemilik usaha, foto produk, deskripsi produk, harga, nomor WhatsApp, hingga alamat usaha. Data tersebut selanjutnya akan dipublikasikan melalui laman resmi desa agar informasi UMKM dapat diakses lebih luas oleh masyarakat dengan mudah dan cepat.

Similar Posts