Kenalkan Cara Baru dalam Pengolahan Lele, Mahasiswa KKN Gandeng Ibu-Ibu Desa Gedangan dalam Pelatihan Pengolahan Abon Lele, Membuka Peluang Usaha Baru

Proses pembuatan abon lele pada Selasa (21/7) di Rumah Kepala Dusun Kalilongan

GEDANGAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Sebelas Maret (KKN UNS) menggelar pelatihan pembuatan abon lele bagi ibu-ibu Desa Gedangan di rumah Kepala Dusun (Kasun) Kalilongan pada Selasa (21/7). Kegiatan ini digagas untuk mengembangkan potensi budi daya lele yang telah dimiliki sejumlah warga Desa Gedangan, mengingat penjualan lele dalam bentuk segar cenderung memiliki harga jual relatif murah dan berisiko cepat basi apabila tidak segera terjual.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai manfaat lele serta manfaat pengolahan abon. Lele diketahui mengandung protein, lemak sehat, omega 3 dan 6, vitamin B12, serta fosfor. Sementara itu, pengolahan lele menjadi abon dinilai dapat memperpanjang masa simpan dibandingkan lele segar, yakni mencapai satu hingga dua bulan apabila disimpan dalam wadah tertutup rapat. Selain menyasar potensi penjualan, pelatihan ini juga mendorong inovasi pengolahan lele agar tidak hanya digoreng, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk baik dari segi ekonomi maupun gizi.

Dari perhitungan yang dipaparkan, tiga kilogram lele dapat menghasilkan 600 gram abon lele, atau setara 15 kemasan dengan berat masing-masing 50 gram. Dengan harga pokok produksi sekitar Rp10.083, setiap kemasan berpotensi dijual dengan harga Rp15.000 hingga Rp25.000.

Dalam pelatihan tersebut, sebanyak 15 ibu-ibu yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan pengolahan lele bersama Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan abon lele. Prosesnya diawali dengan mencuci bersih lele, kemudian mengukusnya selama 10-15 menit bersama daun jeruk, daun salam, dan perasan jeruk nipis. Setelah matang, daging lele dikupas dan dipisahkan dari duri, lalu dihaluskan menggunakan chopper agar tidak menggumpal.

Proses pengolahan abon lele dengan melibatkan ibu-ibu Desa Gedangan pada Selasa (21/7) di rumah Kepala Dusun Kalilongan.

Bumbu halus yang digunakan terdiri dari serai, kemiri, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, ketumbar, dan merica, yang turut ditambahkan minyak goreng saat proses penghalusan. Bumbu tersebut kemudian ditumis hingga harum, sebelum dicampur dengan lele halus dan dioseng menggunakan api kecil sambil terus diaduk selama kurang lebih 1,5 jam hingga kering dan berwarna cokelat keemasan. Setelah abon lele matang, para peserta diberikan kesempatan mencicipi hasil olahan, serta dibekali pamflet berisi resep lengkap mulai dari alat, bahan, hingga langkah-langkah pembuatan.

Pada pelaksanaannya, para ibu-ibu terlihat cukup antusias mengikuti pelatihan meski proses pembuatan tergolong memakan waktu cukup lama. Berbeda dengan abon pada umumnya yang menggunakan banyak minyak dan proses pemerasan minyak menggunakan spinner, abon lele dalam pelatihan ini dibuat lebih sederhana dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di rumah tangga, sehingga proses pengolahannya dapat diadaptasi dalam skala rumahan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat mendorong munculnya inovasi olahan pangan sehari-hari sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga. Dari segi bisnis, abon lele dinilai memiliki keunggulan dari sisi daya simpan yang lebih awet serta potensi keuntungan yang cukup tinggi, meski di sisi lain proses produksinya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Similar Posts